Selasa, 18 Juni 2019

IBD


MAKALAH
KEBUDAYAAN PERTANIAN MASYARAKAT SUNDA

DISUSUN OLEH:
RADITYA ARYA PRASETYO
55418739
1IA08


UNIVERSITAS GUNADARMA
2019



KATA PENGANTAR


          Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

          Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

          Tidak lupa juga  mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga saya mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah kebudayaan pertanian masyarakat sunda.

          Saya tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, saya mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Depok, 29 Maret 2019




Sejarah tentang suku Sunda

Suku sunda adalah suku yang mendiami pulau jawa bagian barat. Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa (belum ada pemisahan dengan Suku Banten pada masa itu), kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat dan sekitar 3 juta jiwa hidup di provinsi lain. Dari antara mereka, penduduk kota mencapai 34,51%, suatu jumlah yang cukup berarti yang dapat dijangkau dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda adalah salah satu kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia Barat. Nama orang Sunda sering dianggap sebagai orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese (dalam bahasa Inggris berarti orang Sudan).
Pada abad ke-20, sejarah Sunda telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme Indonesia yang akhirnya menjadi Indonesia modern.
Sunda merupakan kebudayaan masyarakat sunda yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal-bakal berdirinya peradaban di Nusantara di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang.
Kata Sunda artinya bagus/baik/putih/bersih/cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Orang Sunda diyakini memiliki etos/watak/karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak/karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (terampil), dan pinter (pandai/cerdas) yang sudah ada sejak zaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke-17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sistem kepercayaan mula mula

Suku Sunda tidak seperti kebanyakan suku yang lain; suku Sunda tidak memiliki mitos tentang penciptaan atau catatan mitos-mitos lain yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak seorang pun tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa Barat. Agaknya pada abad-abad pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan budaya tebas bakar untuk membuka hutan. Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih sebagai pekerja-pekerja di ladang daripada petani padi.
Kepercayaan mereka membentuk fondasi dari apa yang kini disebut sebagai agama asli orang Sunda. Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti seperti apa kepercayaan tersebut, tetapi petunjuk yang terbaik ditemukan dalam puisi-puisi epik kuno (Wawacan) dan di antara suku Badui yang terpencil. Suku Badui menyebut agama mereka sebagai Sunda Wiwitan(orang Sunda yang paling mula-mula). Bukan hanya suku Badui yang hampir bebas sama sekali dari elemen-elemen Islam, tetapi suku Sunda juga memperlihatkan karakteristik Hindu yang sedikit sekali. Beberapa kata dalam bahasa Sansekerta dan Hindu yang berhubungan dengan mitos masih tetap ada. Dalam monografnya, Robert Wessing mengutip beberapa sumber yang menunjukkan suku Sunda secara umum, "The Indian belief system did not totally diplace the indigenous beliefs, even at the court centers." Berdasarkan pada sistem tabu, agama suku Badui bersifat animistik. Mereka percaya bahwa roh-roh yang menghuni batu-batu, pepohonan, sungai , dan objek tidak bernyawa lainnya. Roh-roh tersebut melakukan hal-hal yang baik maupun jahat, tergantung pada ketaatan seseorang kepada sistem tabu tersebut. Ribuan kepercayaan tabu digunakan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.




UPACARA ADAT BERTANI

            Upacara Seren Taun yaitu upacara adat yang intinya mengangkut padi (ngangkut pare) dari sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya di adakan riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/ pemuka masyarakat dengan pejabar pemerintah setempat. Mereka menyampaikan Kabar gembira kepada pejabat setempat atas keberhasilan panen(hasil tani) dan kesejahteraan yang telah di lewati. Salah satu ciri khas upacara Seren Taun adalah melakukan seba, yaitu menyampaikan aneka macam hasil panen kepada pejabat setempat agar ikut menikmati hasil tani mereka.
            Salah satu tujuan upacara seren taun ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilannya Bertani serta mengharapkan pada masa mendatang hasil panen akan lebih baik lagi. Biasanya ,Upacara seren taun ini dapat dijumpai di Kasepuhan Simarasa Cisolok-Sukabumi Selatan,Cigugur Kuningan dan Baduy-Lebak/Banten.


            Upacara tradisional Kawin Tebu dilaksanakan seperti upacara perkawinan manusia, yang mana satu batang tebu dikawinkan dengan tebu yang lainnya dengan suatu prosesi upacara. Sesuai dengan namanya, prosesi upacara adat ini dilaksanakan dengan mengawinkan kedua batang tebu. Layaknya manusia, kedua tebu tersebut dikawinkan dalam prosesi upacara. Setelah resmi ‘dinikahkan’, kedua tebu ini nantinya akan diarak keliling oleh warga menuju tempat penggilingan tebu. Upacara ini dilaksanakan setelah panen menjelang tebu dimasukkan ke pabrik untuk di proses menjadi gula, atau awal musim tanam tebu. Menjelang diadakan perkawinan tebu ditampilkan berbagai atraksi kesenian yang diikuti oleh masyarakat setempat, terutama oleh para pekerja pabrik gula dan keluarganya. Biasanya atraksi kesenian yang ditampilkan adalah kuda lumping dan seni jaipong khas Sunda. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tanam yang memuaskan serta memohon kepada Tuhan YME. Agar hasil tanam yang akan datang lebih baik lagi. Upacara ini terdapat di daerah Kadipaten, Kabupaten Majalengka.


            Upacara Ampih Pare adalah upacara menyimpan hasil panen padi dari sawah/ lading ke tempat penyimpanan padi (pare) yang di sebut leuit. Pada pelaksanaannya para petani dengan memakai pakaian adat yang khas, memikul hasil panennya menggunakan alat pikul yang disebut “nengkong”. Selama perjalanan alat pikul tersebut menimbulkan bunyi yang khas, upacara ampih pare merupakan suatu prosesi pertunjukkan kesenian yang khas. Terdapat di Kabupaten Sumedang, Cianjur, Karawang dan Subang.

            Upacara Ngarot dilaksanakan pada saat dimulainya musim tanam, yaitu pada awal musim penghujan, saat musim tanam yang baik untuk menggarap tanah palawija di Ladang. Pelaksanaannya dengan cara mengadakan keramaian berupa arak-arakan menuju Bale Desa. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada sang Pencipta agar hasil berladangnya diberkahi dan dilimpahkan hasilnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Upacara ini terdapat di daerah Indramayu.


            Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang diterima oleh masyarakat berhasil baik. Upacara tradisi seperti ini terdapat di Cirebon, pelaksanaan upacara ini di Makam Sunan Gunung Jati yang dipimpin oleh Ki Penghulu. Setelah upacara ini selesai, biasanya di Alun-alun diselenggarakan berbagai kesenian, sebagai acara puncaknya pergelaran Wayang Orang. Sesajen yang penting dalam tradisi ini adalah bubur sura dan Hasil bumi untuk dimakan dan dikuburkan. Bubur sura dibuat dari berbagai biji-bijian, yang hanya boleh dimasak dalam kendi kuali dari tanah. Berbagai jenis hasil bumi, mulai dari biji-bijian, umbi-umbian dan sayuran dan buah, akan dikeluarkan pada acara tersebut dan dimakan bersama-sama. Kepala binatang ternak yang dikurbankan, biasanya akan dikubur.



            Upacara Pesta laut biasanya diselenggarakan di daerah pesisir jawa barat seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan Pangandaran (Ciamis). Upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas hasil laut yang diperoleh para nelayan, juga sebagai ungkapan permohonan agar para nelayan selalu selamat dan sehat serta memperoleh hasil laut yang melimpah.
Di dalam upacara tersebut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai Simbolis . Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu lalu pergi ke tengah laut diiringi nyanyian dan musik pepujian untuk Allah SWT . Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdo’a bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.



Menurut Pa Nanang Upacara adat yang ada dalam suku sunda tersebut bertujuan sebagai rasa syukur/ terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen yang telah di raih,namun dikarenakan kebudayaan tradisional semakin mengikis dikarenakan era globalisasi sehingga budaya budaya modern kian marak dimana saja mengakibatkan upacara upacara adat tersebut kian menghilang,dan hanya beberapa daerah saja yang masih melestarikan upacara adat tersebut.







            Terdapat berbagai macam upacara adat dalam menyambut musim panen maupun musim tanam dari masing masing daerah namun tujuannya sama, untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan YME atas pencapaian hasil panen yang baik dan memohon agar kedepannya hasil panen lebih meningkat. Terdapat pula kesenian kesenian lain untuk memeriah kan upacara adat tersebut,namun upacara adat tersebut kian lama semakin sedikit yang melakukannya dikarenakan era globalisasi sehingga hanya beberapa daerah saja yang hingga kini masih melakukan upacara adat tersebut.
            Dikarenakan upacara adat ini adalah budaya sehingga kita perlu melestarikannya karena kalau bukan kita siapa lagi



SOURCE
Buku Anjungan TMII
Narasumber Anjungan Jawa Barat : pak Nanang Ridwan 08112344696

Tidak ada komentar:

Posting Komentar