MAKALAH
KEBUDAYAAN PERTANIAN MASYARAKAT SUNDA

DISUSUN OLEH:
RADITYA ARYA PRASETYO
55418739
1IA08
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah
memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita
nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Tidak lupa
juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT
atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal
pikiran, sehingga saya mampu untuk menyelesaikan pembuatan
makalah kebudayaan pertanian masyarakat sunda.
Saya tentu
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, saya mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya
dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Depok,
29 Maret 2019
Sejarah tentang suku Sunda
Suku sunda adalah suku yang mendiami pulau jawa
bagian barat. Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa (belum ada
pemisahan dengan Suku Banten pada masa itu), kebanyakan
dari mereka hidup di Jawa Barat dan sekitar 3 juta jiwa
hidup di provinsi lain. Dari antara mereka, penduduk kota mencapai 34,51%,
suatu jumlah yang cukup berarti yang dapat dijangkau
dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda adalah salah satu
kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia Barat. Nama orang Sunda
sering dianggap sebagai orang Sudan di
Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia. Beberapa koreksi ejaan dalam
komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese (dalam bahasa
Inggris berarti orang Sudan).
Pada abad ke-20, sejarah
Sunda telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme Indonesia yang
akhirnya menjadi Indonesia modern.
Sunda merupakan kebudayaan
masyarakat sunda yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa. Sebagai suatu suku,
bangsa Sunda merupakan cikal-bakal berdirinya peradaban di Nusantara di
mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang.
Kata Sunda artinya
bagus/baik/putih/bersih/cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur
kebaikan. Orang Sunda diyakini memiliki etos/watak/karakter Kasundaan sebagai
jalan menuju keutamaan hidup. Watak/karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur
(sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (terampil), dan pinter
(pandai/cerdas) yang sudah ada sejak zaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke
Sumedang Larang Abad ke-17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih
dari 1000 tahun.
Sistem
kepercayaan mula mula
Suku Sunda tidak seperti
kebanyakan suku yang lain; suku Sunda tidak memiliki mitos tentang penciptaan
atau catatan mitos-mitos lain yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak
seorang pun tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa
Barat. Agaknya pada abad-abad pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda
menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan budaya tebas bakar untuk membuka
hutan. Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih sebagai
pekerja-pekerja di ladang daripada petani padi.
Kepercayaan mereka membentuk
fondasi dari apa yang kini disebut sebagai agama asli orang Sunda. Meskipun
tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti seperti apa kepercayaan tersebut,
tetapi petunjuk yang terbaik ditemukan dalam puisi-puisi epik kuno (Wawacan)
dan di antara suku Badui yang terpencil. Suku Badui
menyebut agama mereka sebagai Sunda Wiwitan(orang Sunda yang paling
mula-mula). Bukan hanya suku Badui yang hampir bebas sama sekali dari elemen-elemen
Islam, tetapi suku Sunda juga memperlihatkan karakteristik Hindu yang sedikit
sekali. Beberapa kata dalam bahasa Sansekerta dan Hindu yang berhubungan dengan
mitos masih tetap ada. Dalam monografnya, Robert Wessing mengutip beberapa
sumber yang menunjukkan suku Sunda secara umum, "The Indian belief
system did not totally diplace the indigenous beliefs, even at the court
centers." Berdasarkan pada sistem tabu, agama suku Badui
bersifat animistik. Mereka percaya bahwa roh-roh yang menghuni
batu-batu, pepohonan, sungai , dan objek tidak bernyawa lainnya. Roh-roh
tersebut melakukan hal-hal yang baik maupun jahat, tergantung pada ketaatan
seseorang kepada sistem tabu tersebut. Ribuan kepercayaan tabu digunakan dalam
setiap aspek kehidupan sehari-hari.
UPACARA ADAT
BERTANI
Upacara
Seren Taun yaitu upacara adat yang intinya mengangkut padi (ngangkut pare) dari
sawah ke leuit (lumbung padi) dengan menggunakan pikulan khusus yang disebut
rengkong dengan diiringi tabuhan musik tradisional. Selanjutnya di adakan
riungan (pertemuan) antara sesepuh adat/ pemuka masyarakat dengan pejabar
pemerintah setempat. Mereka menyampaikan Kabar gembira kepada pejabat setempat
atas keberhasilan panen(hasil tani) dan kesejahteraan yang telah di lewati.
Salah satu ciri khas upacara Seren Taun adalah melakukan seba, yaitu
menyampaikan aneka macam hasil panen kepada pejabat setempat agar ikut
menikmati hasil tani mereka.
Salah
satu tujuan upacara seren taun ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan
atas keberhasilannya Bertani serta mengharapkan pada masa mendatang hasil panen
akan lebih baik lagi. Biasanya ,Upacara seren taun ini dapat dijumpai di
Kasepuhan Simarasa Cisolok-Sukabumi Selatan,Cigugur Kuningan dan
Baduy-Lebak/Banten.
Upacara
tradisional Kawin Tebu dilaksanakan seperti upacara perkawinan manusia, yang
mana satu batang tebu dikawinkan dengan tebu yang lainnya dengan suatu prosesi
upacara. Sesuai dengan namanya, prosesi upacara adat ini
dilaksanakan dengan mengawinkan kedua batang tebu. Layaknya manusia, kedua tebu
tersebut dikawinkan dalam prosesi upacara. Setelah resmi ‘dinikahkan’, kedua
tebu ini nantinya akan diarak keliling oleh warga menuju tempat penggilingan
tebu. Upacara ini
dilaksanakan setelah panen menjelang tebu dimasukkan ke pabrik untuk di proses
menjadi gula, atau awal musim tanam tebu. Menjelang diadakan perkawinan tebu
ditampilkan berbagai atraksi kesenian yang diikuti oleh masyarakat setempat,
terutama oleh para pekerja pabrik gula dan keluarganya. Biasanya atraksi
kesenian yang ditampilkan adalah kuda lumping dan seni jaipong khas Sunda.
Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tanam yang memuaskan serta
memohon kepada Tuhan YME. Agar hasil tanam yang akan datang lebih baik lagi.
Upacara ini terdapat di daerah Kadipaten, Kabupaten Majalengka.
Upacara
Ampih Pare adalah upacara menyimpan hasil panen padi dari sawah/ lading ke
tempat penyimpanan padi (pare) yang di sebut leuit. Pada pelaksanaannya para
petani dengan memakai pakaian adat yang khas, memikul hasil panennya
menggunakan alat pikul yang disebut “nengkong”. Selama perjalanan alat pikul
tersebut menimbulkan bunyi yang khas, upacara ampih pare merupakan suatu
prosesi pertunjukkan kesenian yang khas. Terdapat di Kabupaten Sumedang,
Cianjur, Karawang dan Subang.
Upacara
Ngarot dilaksanakan pada saat dimulainya musim tanam, yaitu pada awal musim
penghujan, saat musim tanam yang baik untuk menggarap tanah palawija di Ladang.
Pelaksanaannya dengan cara mengadakan keramaian berupa arak-arakan menuju Bale
Desa. Upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon kepada sang Pencipta
agar hasil berladangnya diberkahi dan dilimpahkan hasilnya untuk kesejahteraan
masyarakat setempat. Upacara ini terdapat di daerah Indramayu.
Upacara
ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang diterima
oleh masyarakat berhasil baik. Upacara tradisi seperti ini terdapat di Cirebon,
pelaksanaan upacara ini di Makam Sunan Gunung Jati yang dipimpin oleh Ki
Penghulu. Setelah upacara ini selesai, biasanya di Alun-alun diselenggarakan
berbagai kesenian, sebagai acara puncaknya pergelaran Wayang Orang. Sesajen yang
penting dalam tradisi ini adalah bubur sura dan Hasil bumi untuk dimakan dan dikuburkan.
Bubur sura dibuat dari berbagai biji-bijian, yang hanya boleh dimasak dalam
kendi kuali dari tanah. Berbagai jenis hasil bumi, mulai dari biji-bijian,
umbi-umbian dan sayuran dan buah, akan dikeluarkan pada acara tersebut dan
dimakan bersama-sama. Kepala binatang ternak yang dikurbankan, biasanya
akan dikubur.
Upacara Pesta laut biasanya diselenggarakan di daerah pesisir
jawa barat seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi) dan Pangandaran (Ciamis). Upacara
ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas hasil laut
yang diperoleh para nelayan, juga sebagai ungkapan permohonan agar para nelayan
selalu selamat dan sehat serta memperoleh hasil laut yang melimpah.
Di dalam upacara tersebut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai Simbolis . Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu lalu pergi ke tengah laut diiringi nyanyian dan musik pepujian untuk Allah SWT . Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdo’a bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.
Di dalam upacara tersebut perahu-perahu nelayan dihiasi dengan berbagai ornamen berwarna-warni yang dinaiki oleh para nelayan dan dilengkapi sesajen. Yang unik dalam upacara ini adalah para nelayan menghadiahkan kepala kerbau yang sudah dibungkus kain putih kepada penguasa laut sebagai Simbolis . Perahu yang membawa sesajen dan kepala kerbau berada di posisi paling depan dan diikuti perahu-perahu lainnya yang ditumpangi para nelayan dan keluarganya serta masyarakat setempat. Perahu lalu pergi ke tengah laut diiringi nyanyian dan musik pepujian untuk Allah SWT . Sebelum kepala kerbau dihanyutkan di tengah laut, mereka berdo’a bersama untuk keselamatan. Pesta laut diadakan setahun sekali.
Menurut Pa Nanang Upacara adat yang ada dalam
suku sunda tersebut bertujuan sebagai rasa syukur/ terimakasih kepada Tuhan
Yang Maha Esa atas keberhasilan panen yang telah di raih,namun dikarenakan
kebudayaan tradisional semakin mengikis dikarenakan era globalisasi sehingga
budaya budaya modern kian marak dimana saja mengakibatkan upacara upacara adat
tersebut kian menghilang,dan hanya beberapa daerah saja yang masih melestarikan
upacara adat tersebut.
Terdapat berbagai macam upacara adat dalam
menyambut musim panen maupun musim tanam dari masing masing daerah namun
tujuannya sama, untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan YME atas pencapaian
hasil panen yang baik dan memohon agar kedepannya hasil panen lebih meningkat.
Terdapat pula kesenian kesenian lain untuk memeriah kan upacara adat
tersebut,namun upacara adat tersebut kian lama semakin sedikit yang
melakukannya dikarenakan era globalisasi sehingga hanya beberapa daerah saja
yang hingga kini masih melakukan upacara adat tersebut.
Dikarenakan upacara adat ini adalah budaya sehingga
kita perlu melestarikannya karena kalau bukan kita siapa lagi
SOURCE
Buku Anjungan TMII
Narasumber Anjungan Jawa Barat : pak Nanang
Ridwan 08112344696